Site Loader

Kali ini ditampilkan Profil Pengawas yang disuguhkan dengan “Rasa Guru”. Nuansa profil lebih menekankan pada pesan “Pemikiran seorang Sumarna” sebagai seorang guru. Cukup menarik untuk disimak. selamat bertaaruf dengan pemikiran Sumarna, Pengawas Madrasah, Ketua Pokjawas Madrasah Klaten, Anggota BAN SM Jateng, Dosen.

( Klaten )-Sumarna, lahir di Klaten pada tanggal 15 Juni 1971. Lahir dari keluarga sederhana dan agamis serta mempunyai semangat untuk berubah. Lahir dari 6 (enam) bersaudara dan penulis menjadi anak sulung, terdiri dari 4 permpuan dan 2 laki-laki. Ayahnya bernama Narto Miharjo (Ngadinem nama kecilnya)  bekerja sebagai seorang buruh kecil, dan ibunya bernama Ngadikem (Pupon) dan bekerja sebagai buruh dan ibu rumah tangga yang awlnya ketika tenaga masih kuat jual bubur lethok dan “ Sego Gudhang “.

Putra sulung dari enam saudara ini menghabiskan masa kanak-kanak dan anak-anaknya di desa Krandon, Kwaren, Ketandan (Ngawen saat ini), Klaten. Sejak kecil sudah belajar untuk mandiri agar bisa terus bersekolah, dengan membantu orang tua yang berjualan bubur lethok, membantu di sawah, membuat batu merah, menggembala kambing karena saat itu mempunyai kambing yang cukup banyak, lumayan untuk biaya sekolah saya dan adik-adik.

Penulis  menempuh pendidikan tanpa melalui TK/RA/BA karena jauh ketika itu, maka begitu usia 7 tahun orang tua memasukkan saya ke SD Negeri Kwaren II pada tahun 1978, kemudian dipindah ke SDN Kwaren II yang lebih dekat dari rumah dan lulus SD tahun 1984.

Kemudian melanjutkan sekolah ke MTs Negeri Klaten  pada tahun 1984 yang terletak di Kwoso, Gergunung, Klaten Utara berada di tepian jalan Provinsi Klaten- Boyolali- Semarang. Pada tahun 1987 penulis dinyatakan lulus dari MTs dan melanjutkan sekolah di PGA Negeri Klaten, yang saat itu siswanya sangat banyak dengan kelas paralel rerata 12 kelas, saya di kelas IA, II A, dan III A, dengan Kepala Madrasah setiap tahun berganti-ganti.

Perjalanan menjadi seorang guru adalah bagaikan pengembaraan panjang yang tak kunjung henti hingga dunia ini henti. Suka dan duka dijalaninya tanpa ada rasa menyesal memilih profesi guru. Guru dalam falsafah jawa adalah kedudukan yang terhormat dan “misuwur“, guru adalah sosok yang bisa digugu dan ditiru. Dialah menjadi sosok yang bisa dijadikan panutan dalam pranata sosial-kemasyarakatan. Figur guru sesungguhnya adalah sosok yang begitu dihormati di masyarakat. Peran dan kapasitasnya yang mumpuni dalam segala hal, yang dalam bahasa jawa disebut “guru iku opo-opo mesti bisa lan mumpuni ing babagan kawruh kang adhiluhung “, adalah stigma yang sama sekali tidak bisa lepas dan hilang dalam masyarakat Indonesia.

Dia laksana lentera yang menerangi alam sekitar dari kegelapan. Yang dalam bahasa agama Islam dikenal dengan sebutan “minal zhulumati ilannuur” artinya membawa penerangan dan pencerahan dari kegelapan menuju terang benderang. Meminjam istilah R.A. Kartini “ Habis Gelap Terbitlah Terang”. Penulis sendiri sudah lebih 20 tahun menjadi guru. Tugas pertama oleh Kanwil Kementerian Agama Daerah Istimewa Yogyakarta pada tahun 1997 di tempatkan di MIN Semin Kabupaten Gunungkidul. Saat itu peta buta yang ada dibenak penulis, mana itu tempatnya, karena stigma masyarakat kalau kawasan Gununukidul itu susah air. Orang sana bilang “ adhoh ratu cedhak watu “. Kultur masyarakat yang masih perawan dan polos membuat penulis belajar banyak dari mereka.

Penulis sadar bahwa ditengah sebutan yang begitu mempesona tentang Yogyakarta sebagai kota pelajar sekaligus kota budaya, ternyata di sisi selatan sana masih sangat perlu uluran tangan dari anak-anak hebat bangsa ini. Kenapa ? karena hampir 80% guru di Gunungkidul berasal dari luar kota. Maka terjadilah proses asimilasi dan adaptasi, baik secara kultural maupun agama. Disinilah penulis merasa beruntung jika di tengok pada era sekarang, yang oleh para pakar sering di sebut sebagai “Era disruption“, apalagi sudah memasuki era new normal di penghujung abad ke-21. Inilah genderang revolusi industri 5.0 sudah menapaki langkahnya di depan mata.

Teringat kita pada istilah yang pernah dilontarkan oleh sastrawan besar dari kawasan Krato Kasunanan Surakarta yaitu R. Ng. Ronggowarsito dengan istilah yang keren saat itu “ Jaman iki jaman edan, yen ra edan ora kumanan”, besok bakal ketekan jaman sing wesi iku isoh mabur, dalan-dalan podo ireng….”. ini oleh generasi 80-90an sepertinya mustahil bisa diterima oleh akal sehat.  Ketika itu profesi guru belum begitu dilirik oleh masyarakat apalagi generasi muda, menjadi guru hanya sebatas panggilan jiwa aja atau lebih tepatnya daripada tidak, menjadi guru lumayan dan sayangnya belum menghasilkan materi yang membuat seseorang itu menjadi “ The have “,  cukup “ nerima ing pandum’, asal bisa digugu landitiru, ing ngarso sung tiladha, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani” ini yang membuat semangat dan hati para guru menjadi  “ ayem-tenteram, lan ora wani neko-neko”. Lain halnya di era sekarang ini.

Tahun 1997 menjadi PNS bertugas di Gunungkidul DIY dengan gaji sekitar Rp. 120.000,00 potong PPH, bisa dibayangkan jika guru itu mempunyai istri dan anak, ditambah biaya tranportasi. Bisa dibayangkan guru yang demikian dipastikan hampir tidak pernah bisa menikmati panasnya mentari di kampung halamannya. Dia berjuang mengejar waktu agar bisa menyapa para siswanya, dan tidak terlambat masuk kelas untuk mengajar dan mendidik generasi bangsa yang dititipkan di MIN Semin Gunungkidul. Yang lokasinya jika dilihat dari geografis-teritorial berada kurang lebih 30 km dari kota Wonosari yang menjadi ibu Kota Kabupaten Gunungkidul, 5 km dari Kota Kecamatan, dan 2 km  dari Balai desa Sumberejo. Berada di lokasi segitiga emas, berbatasan dengan 3 kabupaten di wilayah yang masuk Provinsi Jawa Tengah. Sisi barat dengan berbatasan dengan Kabupaten Klaten, sisi utara dengan Kabupaten Sukoharjo, dan Sisi timur dengan Kabupaten Wonogiri.  Sehingga wilayah ini menjadi transit sekaligus migrasi antar wilayah tersebut. Posisi guru pada saat itu masih bagus, jika dibanding era 70-an yang dikenal sebutan guru dengan “ Umar Bakri “, yang pakai sepeda onthel, pakaian yang sedikit dekil dan kurang pantas sesungguhnya, namun karena keadaan tetap dipakai dalam tugas kesehariannya.

Disinilah terjadi pertemuan antar budaya, adat, bahasa, kultur, dan agama yang majemuk dan beragam. Inilah warna miniatur dari Indonesia Raya, yang majemuk, multikultur, dan pluralis. Yang demikian ini merupakan manifestasi dari “Bhinneka Tunggal Ika”,  berbeda-beda tetapi tetap satu jua.

Jika dilihat dari SDM guru dan siswa juga sangat beragam, siswa di sana didominasi kaum petani dan buruh, kurang dari 10 % yang berprofesi sebagai PNS dan pedagang (ditinjau dari input wali murid dan siswa).  Hal ini sedikit banyak berpengaruh dengan pola kebijakan, pola asah, asih, dan asuh dalam melakukan interaksi pembelajaran dengan para siswa. Disitulah penulis banyak belajar dengan penduduk sekitar termasuk para siswa, dalam hal menyesuaikan budaya dan adat istiadat yang berlaku, demikian halnya dalam proses pembelajaran di kelas.

Sebuah masyarakat yang sudah terlanjur enak dan nyaman dalam kondisi mapan dan nyaman, akan sedikit berkonfrontasi manakala dikenalkan sesuatu hal yang baru. Hal ini justru menjadi motivasi dan inspirasi untuk menyadarkan mereka terhadap sesuatu yang baru, yaitu merubah “mind set”dalam berpikir dan  paradigma yang berkemajuan.  Pelan tapi pasti perubahan itu ada, dari merubah perilaku agar menjadi sosok figur yang disiplin dan jujur dalam mengelola waktu juga mengelola kepercayaan yang diberikan.  Inilah strategi menumbuhkan sebuah sikap diri yang  merasa mempunyai dan merasa “handarbeni”(  sense of belonging and sense and responsibilty ).

Menjadi seorang guru saat itu, harus berini “nombok”, atau mengeluarkan modal untuk memperjuangkan sebuah ide perubahan agar ada inovasi baru demi sebuah cita-cita pembaharuan ke arah kemajuan. Sedikit demi sedikit perubahan itu nyata mengalir. Ini berkorelasi positif dengan tuntutan pembelajaran abad 21 saat ini, yaitu : Critical Thinking, Creatifity, Collaboration, and Commmunication.  Ini menjadi target goal kompetensi siswa yang diharapkan menyatu dalam karakter dan kepribadian yang utuh ( holistik-Integratif ), menyatu dalam alam ta kambang yang apapun bisa dijadikan sumber belajar.

Saat masih menjadi guru di era 90an, perangkat komputer dan handphone masih merupakan barang langka bahkan bisa dibilang mewah. Dengan PC komputer pentium 1, 2, 3, 4, dan seterusnya, jika ditinjau dari SDM Guru masih sedikit yang bisa mengoperasikan perangkat hardware tersebut. Penulis sebagai guru saat itu, menyesuaikan kemapuan siswa dan sejawat guru dengan cara “ ngemong atau momong”, agar tidak terjadi pergolakan yang berarti. Secara evolosioner perubahan itu nyata dan terjadi. SDM guru yang belum ada yang S1 kecuali penulis, yang di dominasi rata-rata diploma 2 menjadikan percepatan kemajuan sedikit menghambat, karena pola pikir dan langkah yang  berbeda saat diajak berubah, “ wis ngene iki cukup ra usah neko-neko”. Maka penulis menggunakan teknik berpikir yang “out of the box “, agar bisa keluar dari penjara kejumudan.

Saat menjadi Guru Madya dengan golongan III/a , maka beban tanggung jawab banyak  diberikan pada saya, termasuk beban mengajar. Yang muda biasanya diberi jam mengajar banyak, mata pelajaran yang oleh guru senior dirasa berat, jam yang berserakan artinya melompat antar waktu dan kelas. Kesannya yang muda “harus manut”.  Maka, saya hanya bisa mengatakan insyaallah saya laksanakan dengan penuh tanggung jawab. Alhamdulilah, para siswa merespon model pembelajaran yang saya berikan, yang tidak didominasi dengan ceramah dan tugas, tetapi lebih berproses secara dialogis-interaktif dengan menempatkan siswa tidak hanya sebagai obyek pembelajaran namun sekaligus sebagai subyek dalam proses pembelajaran. Penataaan ruang dan tempat duduk yang selalu berubah, membuat mereka merasa senang dan nyaman, hilang pola monoton, konservatif, dan ortodoks. Inilah yang disebut dengan”active learning” dalam pembelajaran saat ini, yang memposisikan seorang guru lebih sebagai fasilitator dalam pembelajaran, pendamping, sahabat sekaligus kawan belajar bagi siswa-siswanya.

Waktu terus berjalan dan berubah, maka untuk mengubah keadaan yang serba masif dan monoton harus ada wadah yang menggerakkan roda perubahan organiasi guru melalui KKG. Penulis terpilih menjadi ketua KKG Kecamatan Semin. Berbagai even dan koordinasi penulis lakukan untuk memberdayakan dan menguatkan peran guru. Kali ini magnit gerakannya bukan hanya lingkup sekolah/madrasah, tetapi sudah merambah seluruh sekolah/madrasah di Kecamatan Semin Gunungkidul. Pertemuan guru secara rutin terjadwalkan dengan memenuhi apa yang dibutuhkan oleh guru, berbagai pelatihan dihadirkan, pertemuan dilakukan secara bergilir dengan maksud bisa saling “ngansu kawruh” atau dalam bahasa kerennya “study bandin “. Disinilah molekul perubahan bergerak dan berdetak dengan kencang, seakan mengguncang bumi Semin untuk berubah secara revolusioner bukan hanya evolosioner.

Semangat ini penulis jaga dengan menghadirkan berbagai narasumber untuk memintariukkan teman-teman guru, mulai dari pembuatan perangkat pembelajaran, merancang proses pembelajaran yang menarik dan menyenangkan, bedah kisi-kisi dan soal, bedah instrumen areditasi, outbond trainning, rihlah ilmiah dan studi banding. Saat itu pernah saya ajak ke SD Muhammadiyah Sukonandi dan SD Muhammadiyah Sapen Yogyakarta. “Best practicess” antar guru dan kepala madrasah senantiasa dilakukan. Dan alhasil, MIN Semin menjadi induk sekaligus motor penggerak perubahan di Kecamatan Semin. Hal ini sedikit banyak memotivasi para guru di MIN Semin untuk bisa, mau belajar dan berubah. Maka banyak teman-teman guru yang menempuh S1, ada yang di STITY Wonosari, STAIMUS Surakarta, IAIN Sunan Kalijaga, UNY, UMY, dan banyak lagi.

Era yang penulis harapkan sudah mulai muncul dan nampak gerakannya. Guru-guru di Kecamatan Semin begitu mewarnai dalam kegiatan dalam lingkup Kabupaten. Berbagai even dilakukan, di antaranya pemilihan KKG Tingkan Kabupaten. Dalam musyawarah yang dihadiri oleh perwakilan guru-guru hebat, mungkin sekarang dikenal dengan istilah “ Guru Penggerak” oleh mas mentri Nadiem Makarim yang dikenal dengan “ Merdeka Belajar dan Kampus Merdeka “ demikian halnya yang terjadi saat itu. Penulis terpilih menjadi Ketua KKG MI Kabupaten Gunungkidul.

Akselerasi pergerakanpun semakin santer dilakukan untuk menggerakkan seluruh guru di Kabupaten Gunungkidul. Pertemuan rutin dan berkalapun dilakukan dengan tempat yang berganti-ganti. Dalam satu kali pertemuan kadang penulis menempuh jarak perjalanan kurang lebih 120 km, melewati hutan belantara, perbukitan, jalan setapak, dan kadang tempatnya di puncak bukit.  Dari sinilah penulis mendapat pengalaman banyak hal dan luar biasa. Selain secara fisik sudah ditempa dengan kerasnya hidup dalam perjalanan pergi dan pulang, hujan, angin dan badai tidak menyurutkan semangat untuk berjuang mencerdaskan anak-anak bangsa.

Handphone belum merata, sinyal masih sulit, komunikasi masih serba apa adanya, “ paper   list “, masih nampak keren, “literasi digital, literasi numerik, literasi teknologi” atau budaya literasi belum secanggih dan sehebat saat ini. Saat ini modal yang dipunyai penulis dan teman-teman guru adalah semangat dan motivasi untuk maju dan berubah. Hampir kota dengan julukan seribu bukit itu, yang orang bilang Gunungkidul itu hampir sama dengan Pulau dewata Bali, bukan hanya isapan jempol, melainkan sebuah realitas. Selama perjalanan mata ini selalu dimanjakan dengan panorama yang indah nan mempesona, bukit-bukit saling bermunculan seakan menyapa menulis, hutan dan ladang penduduk nampak hijau ranum, sisi selatan dimanjakan dengan deburan ombak pantai yang bersahut-sahutan. Jadi komplitlah sesungguhnya di sana menjadi tempat untuk Outbond Trainning, wisata alam, bahkan wisata bahari. Kuliner yang sangat beragam membuat lidah ini selalu pingin mencicipi, penduduk yang ramah, situasi atau iklim yang mendukung kinerja untuk maju.

Dalam menggerakkan aktifitas guru-guru di Gunungkidul penulis selaku ketua KKG Kabupaten menggandeng berbagai “ stakeholders “ pendidikan, di antaranya LPMP DIY, IAIN Sunan Kalijaga, UMY, UII, STAIYO, UNY, dan berbagai elemen terkait untuk bekerja sama menggelar berbagai even pelatihan, termasuk dengan Balai Diklat Keagaamaan Semarang.Hari berganti hari, tahun berganti tahun akhirnya pada bulan April 2010 penulis dilantik menjadi Kepala MIN Semin secara definitif.  Terjadilah apa yang sering orang sebut, jika ada perjumpaaan pasti ada perpisahan.  Regenerasi kepemimpinan berlangsung untk meneruskan estafet perjuangan yang rancang bangunnya sudah berjalan secara rapi dan mengalir bagaikan aliran sungai.

Meskipun penulis tidak memimpin KKG lagi karena sudah harus masuk di KKM yang merupakan organisasi kelompok kerja para kepala madrasah, namun jalinan silaturrahim masih terus dirajut dan bersemai. Kegiatan kolaboratif antara KKG MI dengan KKMI berjalan dengan mesra. Posisi ini penulis jalani hingga tahun 2014 sebagai kepala madrasah. Ketika tahun 2013 penulis diundang oleh Kanwil Kementerian Agama Daerah Istimewa Yogyakarta untuk mengikuti TOT Kurikulum 2013 selama 2 minggu di Asarama haji Yogyakarta. Dari sinilah penulis kemudian di percaya oleh Kanwil untuk menjadi nara sumber Kurikulum 2013 di Daerah Istimewa Yogyakarta. Hampir 1.000 guru di DIY pernah saya latih dan belajar bareng, setiap angkatan selama 5 hari. Penulis mendapat pengalaman dan kesempatan berharga dalam berbagai even pelatihan untuk berbicara.

Meskipun saya mengabdi di madrasah sebagai guru, kemudian kepala Madrasah, sejak tahun 1999 sampai 2018  penulis di minta untuk mengajar di STIKES Muhammadiyah Klaten. Dari kampus ini ribuan perawat dan bidan sudah penulis ajar. Inilah strategi membangun jejaring dalam lingkup pendidikan secara lintas sektoral dan disiplin ilmu. Sehingga penulis banyak mengenal komunitas kesehatan, para medis, analis, apoteker yang tersebar dalam berbagai Rumah Sakit dan Poliklinik. Kemudian pada tahun 2019 sampai sekarang penulis diminta juga bergabung di STAIM Klaten untuk memperkuat dalam pengembangan Prodi Pendidikan Agama Islam. Disamping Penulis Juga pernah mengajar di STPI Bina Insani Yogyakarta untuk mahasiswa S1 PAUD. Dan mulai tahun 2018- 2023 penulis dipercaya menjadi anggota BAN S/M provinsi Jawa Tengah. Setelah mutasi dari DIY ke Klaten Jawa tengah pada tahun 2015.

Paper singkat ini hanya sekedar sekapur sirih dari perjalan panjang penulis menjadi seorang guru hingga sekarang ini dipercaya sebagai Ketua Pokjawas Kantor Kementerian Agama Kabupaten Klaten.  Meskipun  secara jabatan sudah berubah dan berpindah, tetapi yang penulis suka, sebutan mas guru atau pak guru masih familiar di masyakarat. Dan sebutkan “ Guru “ inilah yang terdengar  “ keren “ ditelinga penulis.  Makanya, jadi “guru itu keren”.

Guruku itu hebat, guru itu pahlawan negara yang mestinya mendapat penghargaan lebih seperti di negara-negara maju.  Sehingga setiap generasi muda di negeri ini jika ditanya pingin menjadi apa, jawaban seharusnya adalah menjadi guru. Fakta bicara lain, tidak demikian di negeri ini. Kenapa dan ada apa ? Namun penulis bangga dikampus-kampus yang ada jurusan LPTK/keguruan selalu diserbu dengan ribuan mahasiswa, hal ini terjadi sejak adanya sertifikasi guru, yang di hadiahi oleh pemerintahan SBY, yang saat itu di wakili oleh Yusuf Kalla selaku wakil presiden memberikan anugerah kepada guru saat uapara hari guru di stadion manahan Solo dengan munculnya Undang-Undang Guru dan Dosen nomor 14 tahun 2005. Ini star awal merubah imej masyakarat bahwa “Guru itu Keren“.  Semoga tulisan pendek ini dari perjalanan panjang penulis, menginspirasi kaum guru di Indonesia uuntuk terus meningkatkan kompetensinya agar semakin profesional dalam tugasnya. Selamat untuk guru-guru hebat semua, saudaralah pahlawan terdepan di negeri ini yang mebuat  NKRI menjadi kuat dan maju, serta mampu bersaing dengan berbagai negara di dunia.

Sumarna, alumnus IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta Fakultas Tarbiyah Jurusan PAI tahun 1996, Psikologi Pendidikan Islam pada Magister Studi Islam Universitas Muhammadiyah Yogyakarta tahun 2003, dan tercatat mahasiswa S3 Sekolah Pasca Sarjana Program Doktor PAI Universitas Muhammadiyah Surakarta tahun akademik 2019/2020.

Pengalaman profesi penulis dalam dunia pendidikan adalah sebagai guru mulai tahun 1997-2010, kepala madrasah tahun 2010-2014, pengawas madrasah mulai tahun 2014-sekarang.

Pengalaman yang lain sebagai dosen STIKES Muhammadiyah Klaten tahun 2009-2018, dosen STPI Bina Insani Yogyakarta tahun 2016-2017, dan dosen STAIM Klaten tahun 2019-sekarang.

Penulis juga sebagai anggota BAN S/M Provinsi Jawa Tengahtahun 2018-2023. Pelatih Asesor BAN S/M provinsi Jawa Tengah, dan Pembicara dalam berbagai pelatihan.

Berbagai karya penelitian telah diterbitkan, baik yang berupa Penelitian Tindakan Kepengawasan, Jurnal Pendidikan, Jurnal yang terindeks Scopus, maupun jurnal yang terindeks ISSN Conference Proceedings,  dan.Buku Studi Kemuhammadiyahan ber ISBN

Penulis tinggal di Gelang Baru, Mayungan, Ngawen, Klaten,  Jawa Tengah, HP/WA : 082136753710, email: maz037178@gmail.com.

(editor-Idi Joko Sudono-Humas Pokjawas Madrasah Jateng)

Bagikan Kepada Teman

Post Author: Humas Pokjawasmad

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Top Download