Site Loader

Batang—Adalah Ahmad Munir, S. Ag, S. Pd, sarjana jebolan Fakultas Tarbiyah UIN Syarif Hidayatullah Jakarta (1997) dan Fakultas Ilmu Sosial UNNES Semarang (2002) sebelum menjabat kepala madrasah tahun 2009, juga guru di madrasah tersebut. Pria kelahiran Batang, 31 Oktober 1974, tahu betul kondisi madrasah dan dinamika perubahannya. Menurut Munir, begitu dia biasa dipanggil, sejak mengabdi di madrasah pada tahun 1998, kondisi MA Sunan Kalijaga Bawang Batang masih belum terlalu membanggakan, bahkan sempat menjadi bahan ejeken karena sisi infrastruktur madrasah yang tidak begitu menarik, terkesan lusuh, dan sangat tradisional.

Madrasah Aliyah Sunan Kalijaga Bawang, salah satu madrasah di kabupaten Batang yang terletak di sekitar lereng gunung Prau Kec. Bawang. Jarak madrasah dengan pusat kota sekitar 40 km, dengan masyarakat yang mayoritas petani menjadikan madrasah ini dianggap sulit berkembang. Namun dasawarsa terakhir, MA Sunan Kalijaga cukup diperhitungkan oleh lembaga pendidikan lain di Kabupaten Batang karena berbagai prestasi yang pernah diraih. Perubahan sangat nampak dari sisi pengelolaan, kedisiplinan, dan efektifitas pembelajaran yang baik menjadikan madrasah ini lebih modern. Pola-pola kebiasan lama yang negatif ditinggalkan, dan harus diganti dengan paradigma baru menyosongsong pendidikan masa kini.

Munir yang sederhana, gigih dalam berjuang, dengan prinsip “Pekerjaan adalah Pengabdian, Memimpin Harus dengan Sepenuh Hati”, membuat dia selalu berinovasi dan berkreatifitas dalam memimpin. Pada tahun 2009-2011 MA Sunan Kalijaga mejadi sasaran program pengembangan madrasah Kementerian Agama RI bekerja sama dengan Bank Dunia (ADB) yaitu Madrasah Education Development Project (MEDP). Program ini secara reguler berjalan selama 3 tahun mulai 2009 s.d 2011. Program yang memfasilitasi pengembangan sarana fisik dan peningkatan kualitas pendidikan ini menghasilkan sarana-prasarana madrasah semakin lengkap, peningkatan kualitas guru dan siswa. Tahun 2012 MA Sunan Kalijaga  memperoleh perpanjangan program reward karena realisasi program yang baik. Bahkan Kepala Madrasah berkesempatan  mengikuti study banding ke Korea Selatan selama 5 hari di bulan Desember 2012.

Berbekal pengalaman program MEDP, perubahan di MA Sunan Kalijaga Bawang ini dapat dirasakan. Hal ini dibuktikan dengan tidak hanya secara fisik sarana relatif lengkap, tetapi secara kualitas juga terjadi peningkatan cukup signifikan. Prestasi akademik dan non akademik banyak diraih. Program pembentukan karakter seperti pembiasaan kedisiplinan, kebersihan, kejujuran, kemandirian, dan sebagainya menjadi perhatian utama.  Tidak berhenti di situ, pada tahun 2014, Munir membuat terobosan baru dengan mencanangkan program MA Plus. MA Plus yang ia inisiasi ingin memadukan madrasah reguler dengan ketrampilan dalam proses kegiatan pembelajaran. Sehingga saat ini MA Sunan Kalijaga memiliki 3 program studi (IPS, IPA, Keagamaan), dan dilengkapi program unggulan madrasah berupa program keahlian meliputi Teknik Komputer & Jaringan, Teknik Sepeda Motor, Tata Busana, dan Akuntansi.

Program MA Plus ini dibuka dengan dasar pemikiran bahwa ada fenomena di masyarakat, sejak pemerintah gencar mengkampanyekan sekolah ketrampilan, banyak madrasah aliyah yang peserta didiknya berkurang/menurun. Menurut Munir, jika masyarakat dibiarkan mindsetnya dijejali dengan proyeksi pendidikan hanya untuk meraih pekerjaan, maka perhatian orang tua terhadap pembentukan akhlak anak akan terkalahkan. Oleh karena itu, MA Sunan Kalijaga dalam hal pembentukan akhlak harus lebih kuat dan mampu menjawab kebutuhan masyarakat dengan membekali pendidikan ketrampilan. Terobosan ini relatif berhasil, karena semakin tahun siswa baru di MA Sunan Kalijaga Bawang terus meningkat. Diawal Munir menjabat kepala madrasah jumlah siswa tercatat 191, tahun pelajaran 2020/2021 sudah mencapai 526 dengan 17 rombel.

Prestasi madrasahpun mulai merangkak naik dan mewarnai ajang kompetisi di Kabupaten Batang, dan Provinsi Jawa Tengah, diantaranya; Juara I KIR MIPA Sains Fair Batang, Juara I Biologi Madrasah Sains Fair Batang,  Juara I Debat Bahasa Arab Porsema NU Jawa Tengah, Juara I debat Wacana KMBS IAIN Walisongo, dan masih banyak kejuaraan dari ajang kompetisi tingkat Kabupaten maupun Provinsi. Prestasi Munir yang membawa perubahan di MA Sunan Kalijaga kemudian mengantarkannya menjadi finalis lomba kepala madrasah tingkat provinsi Jawa Tengah tahun 2019, meskipun belum beruntung baru memperoleh Juara Harapan II, tetapi sungguh hal itu menjadi motivasi kuat untuk selalu mengembangkan madrasah lebih hebat bermartabat. Tahun 2020 ini Munir pun berhasil lolos dan menjadi salah satu Tim Inti Kabupaten untuk program e-RKAM yang diselenggarakan oleh Kementerian Agama RI.

Meskipun ada kenaikan grafik di MA Sunan Kalijaga, Munir tak pernah puas terhadap hasil yang dicapai saat ini. Ia masih bermimpi bisa mewarnai ajang Kompetisi Sains Madrasah yang diselenggarakan Kementerian Agama. Untuk itu Munir berharap dukungan yang luar biasa dari Pengawas Madrasah Hj. Dra. Minarsih, M.Pd, segenap guru dan karyawan MA Sunan Kalijaga, serta para tokoh masyarakat, dan para kyai, semoga mimpi MA Sunan Kalijaga untuk semakin hebat bermartabat terwujud.


Sumber                : Ahmad Munir, S. Ag, S. Pd

Editor                    : Suyanto

Bagikan Kepada Teman

Post Author: Humas Pokjawasmad

One Reply to “Profil Kamad Inovatif (1); Ahmad Munir, Memimpin Perubahan Madrasah di Lereng Gunung Prau”

  1. Semoga, dibawah pimpinan Bp. Amad Munir, S.Ag S.Pd MA Sunan Kalijaga Bawang Semakin Inovatif, kreatif , sehingga dapat menjadi madrasah yg mnjdi dambaan masyarakat dan dapat mengantarkan para alumni yg unggul dan berakhlakul karimah ….., Amin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Top Download