Site Loader

Semarang—Bertempat di ruang pengawas (27/10), Kelompok Kerja Pengawas (Pokjawas) Madrasah Kota Semarang mengadakan sosialisasi Instrumen Akreditasi Satuan Pendidikan (IASP) 2020.  Sosialisasi dibuka oleh Kepala Kantor Kementerian Agama Kota Semarang, H. Muhdi dan dihadiri Kasi Pendidikan Madrasah, Moch Fatkhuronji serta didampingi Pengurus Pokjawas madrasah Imron Roasadi dan Sriyati. Narasumber pada kegiatan tersebut adalah asesor IASP 2020 pada BAN S/M Amhal Kaefahmi dan Tri Murdiyanti.

Dalam sambutannya, H. Muhdi, memberikan apresiasi dan penghargaan yang setinggi-tingginya atas dedikasi dan kebersamaan pengawas madrasah, kepala dan guru madrasah yang telah mendampingi siswa madrasah di Kota Semarang sehingga meraih sejumlah prestasi akademik maupun non akademik.

Lebih lanjut, H. Muhdi mengatakan, kendati di tengah pandemi Covid- 19, pengawas madrasah harus tetap konsisten melaksanakan tugas, termasuk diantaranya mendampingi madrasah menghadapi akreditasi. Oleh karena itu, pelaksanaan sosialisasi IASP 2020 sebagai instrumen baru akreditasi harus berlanjut pada tataran madrasah, karena sasaran akreditasi adalah madrasah.

Seiring diberlakukannya IASP 2020, tugas pengawas madrasah dalam mensukseskan akreditasi madrasah binaannya makin bertambah berat. Pesan H. Muhdi, “Persiapan akreditasi madrasah perlu pengawalan dan pendampingan yang serius dan terprogram dari pengawas madrasah, karena penilaian akreditasi saat ini lebih dititikberatkan pada performance ketimbang complience”.

Amhal Kaefahmi dalam paparannya menekankan bahwa akreditasi merupakan bagian dari rangkaian utuh sistem penjaminan mutu dengan tindak lanjut rekomendasi berdasarkan proses akreditasi yang menjadi fokus utama. Lebih lanjut dijelaskan, terdapat perubahan mendasar dalam sistem akreditasi 2020 yaitu dalam siklus (business model) dan manajemen akreditasi. “Siklus (business model) akreditasi saat ini meliputi pertama, kombinasi proses akreditasi digital by system dan akreditasi manual melalui visitasi ke S/M; kedua, perpanjangan status akreditasi melalui Dashboard Monitoring System; dan ketiga reakreditasi hanya dilakukan atas dasar tiga sebab atau triggers” kata Amhal Kaefahmi.

Tiga penyebab reakreditasi, menurut Amhal Kaefahmi, adalah permintaan S/M yang meyakini sekolahnya membaik dan ingin status akreditasinya lebih tingggi, adanya laporan masyarakat yang terverifikasi adanya penurunan kinerja sekolah, dan warning dari Dashboard Monitoring System telah terjadi penurunan kinerja sekolah/madrasah.

Sementara itu, Tri Murdiyanti menekankan pada teknik penggalian data saat dilaksanakan akrediatasi. Penggalian data yang digunakan meliputi telaah dokumen, wawancara, observasi, dan angket terhadap butir-butir instrumen akreditasi pada komponen mutu lulusan, proses pembelajaran, mutu guru, dan manajemen sekolah.


Sumber : Tri Murdiyanti-Pengawas Madrasah Kota Semarang

Editor    : Suyanto

Bagikan Kepada Teman

Post Author: Humas Pokjawasmad

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Top Download