Site Loader

( Sukoharjo )  Seminar  Nasional yang diselenggarakan oleh   Pasca Sarjana IAIN Surakarta dengan tema “Pengembangan Kompetensi Sumber Daya Manusia di Lembaga Pendidikan Pada Era 5.0”, bertempat di Hotel Syariah Solo. Sebuah hotel berbintang 4 yang beralamat di Jl.Adi Sucipto No.47 Gonilan, Kecamatan Kartasura, Sukoharjo. Acara spektakuler yang penuh informasi aktual dan menginspirasi masyarakat pendidikan di Indonesia ini bertempat di lantai tertinggi yaitu lantai 12, hal ini bukan tanpa maksud yang kebetulan begitu saja, namun terkandung nilai filosofi yang tinggi akan tuntutan abad-21 saat ini.

Ada 4 tantangan Pengembangan Pendidikan Tinggi Islam : 1) Modernitas Kelembagaan; Berkembang menjadi institusi modern, namun tetap dapat memperkuat akar dan tradisi Islam 2) Pencipataan Lulusan Berkualitas; Melahirkan lulusan-lulusan berkualitas, berdaya saing, menguasai Iptek dengan tetap merujuk pada nilai-nilai Islam 3 ) Peningkatan Mutu Kelembagaan; Meningkatkan mutu dan memperkuat kelembagaan pendidikan tinggi Islam yang terbuka, modern, empiris-kontekstual, dan produktif dan 4 ) Pengembangan Pemikiran Islam; Melahirkan pemikiran Islam moderat, progresif, dan inklusif melalui pengembangan dialog antar bangsa.

Di ruang inilah molekul yang ada di ruang seminar diguncang dengan para pakar yang beken dan ternama, mulai dari sambutan Ketua panitia yang sekaligus sebagai Direktur Pasca Sarjana IAIN Surakarta yaitu Prof. Dr. Purwanto. Dalam sambutannya dengan nada khas, datar, namun menyejukkan dalam mengantarkan acara besar ini yang berlangsung secara virtual melalui Zoom dan luring. Dia katakan bahwa lompatan gelombang perubahan yang menerpa abad-21 ini begitu super cepat dan dahsyat. Revolosi Industri 4.0 saja masayarakat Indonesia terutama dunia pendidikan masih kepontal-pontal dalam mengikutinya, kini sudah beralih ke Revolosi Industri 5.0 tidak terkecuali masyarakat kampus dan dunia pendidikan               ( Sekolah/Madrasah ). Menurutnya masyarakat pendidikan harus mampu bersikap adaptif dalam rangka memasuki peradaban baru yang super cepat. Peserta seminar kali ini dihadiri oleh jajaran kampus mulai dari Rektor, Wakil Rektor, Direktur Pasca, Kepala Kantor Kementerian Agama se-Solo Raya, Kasi PAIS, Kasi Pendidikan Madrasah, Pengawas, Kepala Madrasah, dan Guru.Peserta yang diundang secara langsung ada sekitar 50 peserta dengan penerapan protokoler kesehatan yang ketat.

Selanjutnya, sebagai keynote speaker kali ini disampaikan secara langsung oleh Prof. Dr. H. Mudofir, M.Pd. ( selaku Rektor IAIN Surakarta ). Menurutnya, telah terjadi pergeseran peradaban sekaligus terjadi gelombang perubahan yang besar di masa pandemi covid-19 ini. Di antara perubahan besar tersebut adalah terjadinya Revolusi Industri dari 4.0 ke 5.0. hal ini sejalan dengan semangat dalam perayaan 100 tahun Indonesia merdeka,  negeri ini berada di peringkat 4 atau 5 dunia. Tuntutan pembelajaran abad-21 di antaranya : 1) Critical Thinking, 2) Communication, 3) Collaboration, 4) creatifity. Menurutnya, pendidikan keislaman tidak setuju jika keunggulannnya dengan menghafal, namun harus ada muatan Critical Thinking. Dalam paparannya dikatakan bahwa hari ini dan seterusnya masa depan kehidupan manusia akan dikendalikan oleh teknologi.  Pendidikan yang tidak menghadirkan nuansa perubahan hanya akan menyumbangkan masa depan yang tidak jelas ( bahasa agama “ menzalimi” peserta didik/mahasiswa) karena sekolah/madrasah dan perguruan tinggi hanya berfungsi laksana pabrik yang memproduk hasil karya tertentu yang sifatnya mekanistis-robotik. Maka, dalam proses pembelajaran PAI dan bahasa Arab harus menggunakan tafsir yang bersifat inklusif bukan ekslusif. Human Development Index ( HDI ) bisa dijadikan ukuran keberhasilan pendidikan di Indonesia, pendidikan menjadi harapan hidup, mutu pendidikan meningkat, dan mutu pendapatan layak. Saat ini masayarakat Indonesia berada dalam kondisi ketidakpastian, namun dunia pendidikan harus tetap memegangi nilai-nilai universal dan mengandung muatan moderasi.

Pada sesi pembicara inti yaitu Prof. Dr. Suyitno selaku Direktur Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam ( PTKI ) Kementerian Agama RI, dalam prolognya dikatakan bahwa ketika mengundang para Rektor atau pejabat ada yang hadir sendiri dan ada yang mewakilkan. Meurut beliau, sesuatu yang penting mestinya tidak boleh/tidak bisa diwakilkan. Maka ketika menjadi pejabat atau dalam posisi apapun jangan mudah mewakilkan pada orang lain, itulah pentingnya memahami posisi diri dalam sebuah acara/undangan, termasuk dalam seminar pagi ini. Dalam kelakarnya jika seorang akdemisi kemudian masuk dalam jabatan struktural, maka matilah semangat akademisnya.

Sekarang ini standarisasi pendidikan sangat ditentukan oleh ekonomi dan industri. Karena sekolah/madrasah bahkan perguruan tinggi berorientasi pada serapan kerja, sehingga perguruan tinggi layaknya pabrik. Maka problem yang kasat mata ditemukan di dunia pendidikan adalah masalah sarana dan prasarana dan kesejahteraan. Maka pendidikan di Indonesia harus ditata ulang ( rekonstruksi/redesign ), misalnya SD/MI mestinya yang mengajar adalah para Guru Besar dan Doktor, guru itu minimal magister, tidak seperti sekarang berbalik para Doktor dan Profesor banyak berada di Perguruan Tinggi. Hal ini wajar dan biasa menurut Suyitno, kenapa ? karena para mahasiswa yang di perguruan tinggi itu sudah jadi dan terbentuk karakternya, sehingga jika pingin menata ulang pendidikan di Indonesia agar maju dan bermutu harus di mulai dari pendidikan dasar.

Kemudian menyongsong era baru untuk peningkatan SDM di era 5.0 perlu ada literasi baru. Agar lulusan bisa kompetitif, kurikukum  perlu orientasi baru, sebab adanya Era  Revolusi Industri 4.0,tidak hanya cukup  Literasi Lama ( membaca, menulis, &  matematika ) sebagai modal dasar untuk  berkiprah di masyarakat. Bagaimana cara melakukan literasi baru tersebuit ? yaitu dengan : 1) Literasi Data; Kemampuan untuk membaca,analisis,dan menggunakan informasi ( Big Data ) di dunia digital. 2 ) Literasi Teknologi; Memahamicarakerjamesin,  aplikasi teknologi (Coding,  Artificial Intelligence, &  EngineeringPrinciples). dan 3) Literasi Manusia;  Humanities,Komunikasi &  Desain.

Dengan demikian redesain pendidikan Islam menjadi sebuah keniscayaan, yaitu dengan melakukan perombakan secara fundamental-mendasar dunia pendidikan ( konsep merdeka belajar dan kampus merdeka ); transformasi ilmu, dan  melakukan perkawinan antara science dan ilmu-ilmu keislaman. Revolusi Industri 5.0 bukanlah sebagai tantangan namun justru menjadi peluang kemajuan mutu pendidikan di Indonesia. Demikian di antara paparan dari Prof Suyitno, semoga bermanfaat.                           ( Kontributor :Sumarna –  Pokjawas Kankemenag Kab. Klaten )

Bagikan Kepada Teman

Post Author: Humas Pokjawasmad

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Top Download