Site Loader

Oleh : Endon Nurcahyati, Guru Ekonomi MAN Batang

Minggu ini adalah minggu dimana para guru sibuk memikirkan soal Ujian Madrasah (UM). Sejak kebijakan Ujian madrasah yang ditentukan oleh masing-masing satuan pendidikan, banyak guru yang mulai sibuk dengan pembuatan soal ujian madrasah, yang pada sebagian madrasah digunakan sebagai salah satu penentu kelulusan. Dalam pembuatannya , guru dituntut untuk dapat membuat soal ujian lengkap dengan kisi kisi soal, kunci dan kriteria penilainnya.

Beberapa guru (oknum guru) membuat soal ujian madrasah tanpa membuat kisi-kisi terlebih dahulu, ada juga yang membuat kisi kisi tanpa menggunakan tingkat kognitif, apalagi mengkategorikan level kognitifnya. Nah dalam kebingungan apakan guru dalam membuat kisi-kisi soal, maka perlu kita ketahui beberapa hal tentang klasifikasi dimensi berfikir berikut ini.

Anderson dan Karthwohl (2001) mengklasifikasikan dimensi proses berfikir sebagai berikut;

HOTS

Mengkreasi

·         mengkreasi ide/gagasan sendiri

·         Kata kerja; mengkonstruksi, desain, kreasi, mengembangkan, menulis, mentransformasikan

Mengevaluasi

·         Mengambil keputusan sendiri

·         Kata kerja; evaluasi, menilai, menyanggah, memutuskan, memilih pendukung

Menganalisis

·         Menspesifikasi aspek-aspek/elemen

·         Kata kerja; membandingkan, memeriksa, mengkritisi, menguji

MOTS

Mengaplikasi

·         Menggunakan informasi pada domain yang berbeda

·         Kata kerja; menggunakan, mendemonstrasikan, mengilustrasikan, mengoperasikan

Memahami

·         Menjelaskan ide/konsep

·         Kata kerja; menjelaskan, mengidentifikasi, menerima, melaporkan

LOTS

Mengetahui

·         Mengingat kembali

·         Kata kerja; mengingat, mendaftar, mengulang, menirukan

Pada klasifikasi tersebut terdapat kata kerja operasional (KKO) yang sama tapi pada ranah yang berbeda. Pusat Penilaian Pendidikan mengklasifikasikan menjadi 3 level kognitif yaitu; pengetahuan dan pemahaman (level 1), aplikasi (level 2), dan penalaran (level 3).

Level 1, pengetahuan dan pemahaman mencakup dimensi proses berfikir mengetahui (C1) dan memahami (C2). Ciri- ciri pada level ini mengukur pengetahuan faktual, konsep, dan prosedural.

Level 2, Aplikasi. Pada level ini membutuhkan pemahaman yang lebih tinggi dari pada level pengetahuan dan pemahaman. Level ini mencakup dimensi proses berfikir menerapkan atau mengaplikasikan (C3). Ciri-ciri pada level 2 ini adalah mengukur kemampuan; a).menggunakan pengetahuan faktual, konseptual, dan prsossedural tertentu pada konsep lain dalam mapel yang sama atau mapel yang lainnya; atau b) menerapkan pengetahuan faktual, konseptual, dan prosedural tertentu untuk menyelesaikan masalah kontekstual (situasi lain).

Level 3, penalaran. Merupakan level kemampuan berfikir tinggi (Higher Order Thingking Skills/ HOTS), karena pada level ini siswa diharapkan mampu mengingat, mehamahami, dan menerepkan pengetahuan faktual, konseptual, dan prosedural serta memiliki logika dan penalaran yang tinggi untukmemecahkan masalah-masalah kontekstual (situasi yang tidak rutin). Pada level penalaran ini mencakup dimensi berfikir menganalisis (C4), mengevaluasi (C5) dan mengkreasi (C6).  Ciri- ciri pada level 3 adalah menuntut kemampuan menggunakan penalaran dan logika untuk mengambil keputusan (evaluasi), memprediksi dn merefleksi, serta menysusn strategi baru untuk memecahkan masalah kontekstual tidak rutin.

Setelah mengetahuai beberapa level kognitif tersebut, maka para guru dapat menyusun kisi kisi diawali dengan menentukan KD (kompetensi dasar) yang akan diukur, merumuskan IPK (Indeks pencapaian Kompetensi), memilih materi pokok yang terkait dengan KD yang akan diuji, merumuskan indikator soal, menentukan level kognitif dan menentukan soal dan nomor soal.

Ada baiknya dalam penyusunan kisi-kisi soal ujian ini di bahas dalam forum MGMP atau pertemuan guru sejenis, untuk memudahkan para guru. Tentunya melalui kisi kisi, soal dan kriteria penilaian pada akhirnya adalah bertujuan untuk melihat sejauh mana siswa dapat terukur kemampuannya, sehingga kompetensi peserta didik dapat meningkat. Apabila hasil penilaannya tidak terdapat peningkatan, berarti para guru hendaknya menggunahan hasil penilaian ini untuk mendorong atau mengoptimalisasikan proses pembelajaran dan perbaikan proses pembelajaran di masa yang akan datang.

Referensi;

Direktorat Jendral Guru dan Tendik Kemendikbud, 2018, Buku penilaian Berorientasi Higer Order thinking Skils

Direktorat KKSK Madrasah Dirjen Pendis Kementerian Agama RI, 2018, Petunjuk teknis Penilaian Hasil Belajar.


Editor : Suyanto

Bagikan Kepada Teman

Post Author: pokjawasmad

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Top Download